Cinta Itu….

CINTA ITU…

Tidak mudah menjadi kader luar biasa yang punya kesabaran luar biasa, dan kelak menjadi bidadari luar biasa

“Sudahlah Uz, dirimu tidak akan pernah mengerti rasa itu. Dari sekian akhwat, Uz yang paling minim pengalaman dengan rasa ini kan? Jadi bagaimana mungkin anti bisa faham, sementara anti selalu berbicara idealisme, sistem, tsiqoh…. Anti tidak akan mengerti saat cinta itu hadir, berat ukh… Ini keputusan saya. Biar semua orang menentang hatta memberikan stigma negatif, saya memilih cinta saya… Bukankah bisa jadi ini yang terbaik dari Allah? Maafkan saya ukhti, ini pilihan saya….”

Cinta itu…

Aku tak tahu kenapa satu kata ini terkadang begitu memiliki kekuatan yang dahsyat untuk sebuah perubahan. Bohong besar jika orang hanya menilaiku seperti itu. Meski jujur, mungkin ada benarnya. Karena ruang cinta dalam hatiku adalah ruang misteri dan rahasia yang hanya diketahui olehku dan Rabbku saja. Aku bersyukur sejak dulu hingga saat ini tak pernah aku bercerita pada siapapun tentang rasa yang mungkin pernah hadir melintas sebagai bagian dari ujian tuk mereguk manisnya iman (meski pas ABG… Ya…, ini mah masih jahiliyah. Ngeceng terus… Astagfirullah). Bagiku itu adalah jihad yang bisa dilakukannya, mengendalikan rasa, menyimpannya dalam kotak rahasia terdalam, dan menghapusnya perlahan hingga keras tuk berjuang mendapatkan kemurnian hati ini kembali.

Tapi ternyata saat cinta melancarkan serangannya pada hospes siapapun, virus itu bisa jadi mengalahkan berbagai sistem imun yang ada.Virus ini (apapun namanya, VMJ, HTS [hubungan tanpa status], virus asmara) boleh jadi kehilangan kekuatannya saat semuanya dikembalikan pada Allah. Namun diberbagai penjuru riak hati berjuta muslimin dan muslimah yang lain virus itu dibiarkan begitu saja, seperti parasit yang terus menggerogoti, tidak pernah puas dengan satu gigitan pada hospesnya. Mengotori hati, mengganggu pikiran, menggugurkan amal dan keikhlasan. Ia dibiarkan tumbuh, menggerototi dengan perlahan relung hati yang suci. Hingga akhirnya sang virus tertawa terbahak saat kemenangan diraihnya.

Cinta itu…

Bahkan dikalangan para aktivis dakwah…… Virus ini menebar penyakit yang menakutkan. Membangun angan-angan, melemahkan dakwah, memfasilitasi kemaksiatan dan menggugurkan amal. Astagfirullah, aku faham ini bukan hal yang mudah. Aku pun merasakan berat dan jatuh bangunnya diriku untuk terus meluruskan niat dan melawan virus-virus itu. Jihad ukh, bisa jadi tertundanya kemenangan dakwah, kesulitan menghafal Al-Qur’an, hambatan beramal muncul dari kemaksiatan-kemaksiatan kita (yang kita anggap kecil, padahal di zaman Rasullah itu adalah sesuatu yang besar).

Ikhwah juga manusia, punya hati punya rasa… Punya kecenderungan. Ya, aku faham betul hal ini (aku juga manusia ko… Tenang aja, bahkan aku adalah makhluk paling lemah, manusia yang punya kesalahan teramat banyak, manusia dengan dosa yang tak terhitung). Hanya saja bidadari, dakwah, tarbiyah, dan manhaj yang kita amalkan tidak pernah mengajarkan kita hal ini. Surat cinta Allah meminta kita untuk menundukkan pandangan, tidak bertabaruj, menegaskan suara, menjaga diri kita, menikahkan para bujang (kita buka lagi surat cinta Rabb kita dalam surat An-Nur dan Al-Ahzab). Allah SWT begitu tegas menjaga kita, begitu sayang terhadap akhwat dan ikhwan, begitu ingin hambaNya memasuki jannah-Nya.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat…” (QS.An-Nuur : 30-34).

Cinta itu….

Aku belum mampu mendefinisikannya jika cinta itu antar dua mahluk bernama laki-laki dan perempuan. Mungkin suatu saat nanti aku dapat menceritakannya jika memang sudah ada yang berhak atas cinta itu.

Aku tahu beratnya rasa itu saat telah hadir di relung hati. Aku tahu bahwa mungkin tidak sedikit air mata yang mengalir di pipimu ya ukhti karena rasa itu. Atau sulitnya matamu terpejam saat satu nama, satu wajah melintas di benakmu. Beratnya hatimu tuk lawan semua rasa itu, tuk kendalikan hati terlebih saat gayung cinta itu bersambut, dan nyanyian kutunggu kau dibatas waktu seakan menjadi lagu wajib yang didendangkan setiap hari….

Namun, ya ukhti karena kau bidadari… Maka tugas kita untuk menjaga saudara-saudara kita, mujahid-mujahid kita tetap pada keteguhannya dan tidak terjatuh dalam pesona fitnah kita akhwat. Karena rasa sayang kita, maka kita menjaga para mujahid dakwah menjadi orang-orang yang berhak mendapatkan churin’in (bidadari surga). Dengan ketegasan kita, dengan ghadul bashar kita, dengan keteguhan hati kita, dengan prinsip-prinsip kita… Kita berjihad mengendalikan semua rasa… Karena kau bidadari, kaulah mas’uliah bidadari-bidadari surga yang senantiasa afifah (menjaga kesucian dirinya). Tidakkah kau tergoda… Saat Allah SWT memandang kita dengan penuh rasa cinta, dan menjadikan kita bidadari di jannah-Nya…

Cinta itu…

Aku malu ya ukhti, saat aku berkutat dengan cinta yang lain atau saat mata ini menangisi satu cinta selain cinta pada Allah. Sementara seorang Syaikh DR. Aidh bin Abdullah al Qarni menulis begitu indah tentang air mata cinta. (Tarbawi,Edisi 148 , kolom Waha).

“Tangisan cinta itu unik. Airmata cinta itu aneh. Panah cinta itu begitu menyakitkan. Perpisahan dari yang dicinta tak ada tabibnya. Orang-orang pecinta adalah orang yang lekas menangis jika mengingat Yang Dicintainya, Allah SWT. Suatu ketika, dibacakan sebuah ayat dihadapan pemimpin makhluk ini, Rasulullah SAW. Saat ia mendengar firman Allah SWT, “ fakaifa idzaa ji-naa min kulli ummatin bi syahiid… (maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu.” ( QS. An Nisaa : 41 ). Lalu airmatanya bercucuran.

Cinta itu….

Takkan pernah ada habisnya kita berbicara tentang cinta. Bidadari, aku tahu tak pernah mudah bagi kita berjihad mengendalikan rasa ini. Terlebih saat lonjakan-lonjakan perasaan, mimpi-mimpi pernikahan, menggoda kita teramat sangat. Tidak pernah mudah, bahkan mungkin sangat berat. Namun bukankah kita tak pernah mampu meraba masa depan? Jodoh kita hanya Allah lah Yang Maha Tahu. Inilah saatnya kita bersandar pada-Nya dengan penuh kepasrahan, keikhlasan, dan berikhtiar dengan cara terbaik. Semoga kelak, cinta kita adalah keberkahan bagi dakwah, kemaslahatan bagi umat dan kekuatan bagi jihad ini, karena Rasulullah menanti kita di telaga Al-haudh, menanti selaksa cinta sejati kita.

Maka ukhti fillah marilah kita berjuang sekuat tenaga kita. Berlepas diri dari cinta yang selain cinta-Nya. Berlari dan melaju pesat menuju cinta-Nya. Menangis memohon cinta-Nya. Semoga tiada lagi air mata yang mengalir karena cinta selain-Nya. Iman itu teramat manis. Semakin berat ujian yang menghadang tuk murnikan cintamu ya ukhti, semakin manis iman yang akan direguk. Yakinlah kesabaran akan membuahkan keberkahan. Allah SWT telah menyiapkan seorang mujahid terbaiknya bagimu. Entah siapa dia, apakah orang di seberang lautan atau di depan mata. Wallahu’alam, tapi aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik.

“Sebagian orang berdoa agar mereka dapat menikahi laki-laki yang mereka cintai. Tapi doaku sedikit berbeda. Dengan rendah hati aku mohon pada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi.“( Cinta Yang Terlambat, Dr. Ikram).

*****

Untuk seorang sahabat, semoga pilihan terbaik bagimu. Semoga Allah menunjukan cinta sejati bagimu. Aku tahu tak pernah mudah, tapi aku yakin mujahidah setangguh dirimu dapat melewati semua ujian berat ini… Sungguh aku masih berharap dan senantiasa berdoa untuk kebahagiaanmu…

Burung Patah Sayap

BURUNG PATAH SAYAP

Tidak mudah menjadi kader luar biasa yang punya kesabaran luar biasa, dan kelak menjadi bidadari luar biasa

Ukhti, aku selalu mengagumi sayap-sayapmu yang tak pernah berhenti mengepak dan senantiasa terbang tinggi dan kian tinggi. Kecepatan dan gelombang ruhiyahmu pun sangat luar biasa. Dirimu, aktivis dakwah yang tak pernah kenal henti berjuang, dinamis, dan haroki, mewakili motomu tentang jangan pernah diam dan berhenti bergerak, karena diam dapat mematikan.

“Ustadz, apakah usia perjuangan dakwah akhwat begitu terbatas? Terbatas oleh usianya, pekerjaannya, dan terbatas oleh amanahnya dalam rumah tangga?” Tanyaku suatu hari pada seorang ustadz. “Kalau begitu aku iri pada teman-teman ikhwan seperjuanganku. Mereka dapat cuek untuk tidak memikirkan pernikahan. Toh setua apapun kelak mereka mau menikah, mereka dapat dengan mudah menikahi akhwat yang lebih muda. Jika akhwat, semakin tua… Adakah ikhwan yang berkenan padanya?” Aku masih dengan pertanyaan polosku. Ustadz hanya tersenyum… I know.. Itu berarti aku sendiri tahu jawabannya. Dungdungdungdung…..

Fenomena ini mungkin mengenai semua lini dakwah. Saat sebagian akhwat berhenti dari aktivitas dakwahnya justru setelah ia menikah. Aku mencoba merenungi dalam-dalam. Pasti ada yang salah, (bisa jadi pemahamanku, pola pikirku) ya…, pasti ada yang dapat kujadikan pelajaran. Dalam benakku, pernikahan di jalan dakwah adalah pernikahan dua aktivis yang bertujuan memperkokoh tandzhim dakwah, menyatukan kekuatan, dan mencetak generasi baru jundullah. That’s the point, namun dalam kenyataannya seringkali kondisi ini tidak se-idealis yang ku bayangkan… Ada berbagai situasi dan kondisi yang realistis yang harus dicermati. Dan aku belajar banyak, dari pernikahan saudaraku, sahabat-sahabatku, patner-patner dakwahku…

Bidadari, menikah adalah sunnatullah dan sunnah Rasulullah bagi setiap muslim. Ya, of course, karena akhwat adalah tulang rusuk yang bengkok. Harus ada yang meluruskannya dengan penuh kesabaran kalau tak ingin patah. Pernikahan sepasang aktivis dakwah haruslah karena dakwah (terlepas dari berbagai fenomena yang ada saat ini; VMJ (virus merah jambu), take in, atau hubungan tanpa status). Dan saat menikah di jalan dakwah, maka proyek dakwah dalam keluarga adalah konsekuensi logis dari pernikahan para aktivis.

Namun bagi akhwat, ada banyak hal baru yang nembuatnya harus berada dalam dunia yang mungkin berbeda. Tak jarang menghentikan sementara gerak langkahnya (terlebih saat buah hati telah hadir dalam kehidupannya). Namun ini hanya sementara, sampai jundi kecilnya mulai bisa diajak berjihad. Right??? Maka menjadi amanah bagi keduanya untuk saling mengingatkan, agar mujahidah dakwah tak bagai burung patah sayap.

Aku yakin engkau tahu benar bidadari, bahwa sebagai akhwat aktivis dirimu memiliki banyak potensi. Kemampuan manajerial, strategi dakwah, membina, kaderisasi, dan banyak hal lainnya yang sebenarnya tidak terbatas. Apakah harus berakhir di gerbang pernikahan? Meski ada amanah lain yang juga tak kalah menantangnya, menjadi madrasah terbaik, bidadari terbaik di rumahnya. Namun potensi itu punya hak untuk terus berkembang, jangan dibiarkan padam atau meredup. Potensi itu harus terus dinamis dan haroki, untuk membuat satu karya terbaik bagi umat. Ada banyak kader akhwat, namun mengapa masih sulit untuk mencari mentor? Mengapa masih sulit untuk mencari pengisi ta’lim? Mengapa begitu sulit untuk mencari aktivis akhwat di lini dakwah ini? Nikmat tarbiyah punya satu konsekuensi logis bagi para jundinya, yaitu bergerak dan beramal, untuk satu cita IQQOMATUDIEN (menegakkan dienNya).

Entahlah, kadang tanya ini tak berujung jawaban. Satu hal yang pasti harus terus kita benahi adalah sebuah sistem yang terbaik untuk mengelola potensi para umahat. Dan tarbiyah sebenarnya telah menjadi wasilah yang tepat. Namun terlepas dari sistem ini, ada satu point yang lebih utama. Niat, ghirah, tadhiyah, hamasah dari para aktivis dakwah akhwat itu sendiri, untuk terus menjadi cahaya umat, tidak semata menjadi cahaya di rumahnya saja. Maka kepak sayap itu akan terus berkembang dengan dua kekuatan besar dalam sebuah rumah tangga yang tak ubah bagai sebuah markas jihad. Bagai sayap burung, ia kan terus terbang lebih tinggi. Tak kenal henti, karena ada tujuan bersama yang begitu indah… Jannah dan pertemuan dengan-Nya.

Bidadari, sungguh…, tidak ada yang membedakan usia perjuangan dakwah akhwat dan ikhwan. Mungkin bentuk dan kadarnya saja yang berbeda. Namun semangat dan gelora jihadnya tidak boleh berbeda. Karena kelak dihadapan Allah, hanya ketaqwaanlah yang membedakan. Bukan gender, suku, rupa seseorang. (Dan aku tidak mau mengalah, juga tidak mau berhenti berfastabiqul khoirot dengan teman-temanku….. Duh…. Nih kepala terbuat dari apa sih?).

Ukhti fillah, para aktivis dakwah, akhwat, dan umahat. Gerbang pernikahan adalah awal fase baru dalam kehidupan (pernikahan bukanlah hidup baru, hanya sebuah fase baru, karena kehidupan baru kita adalah saat kita bertemu Rabb kita. Saat nyawa meregang dari tubuh kita, saat kita akan berhadapan dengan hari yang sangat berat untuk hisab kita. Itulah hidup baru kita, kematian dunia untuk sebuah kehidupan abadi di akhirat kelak). Gerbang itu bukan untuk menutup semua potensi kita, tapi justru laboratorium pengembangan kapasitas dakwah kita. (Berat menulis seperti ini, karena Uz belum bisa membuktikannya alias konsulen teoritis saja).

Saat memasuki rumah dakwah baru, maka saat itulah genderang jihad dibunyikan untuk melihat sejauh mana dua kekuatan besar tersebut berkolaborasi membangun sebuah kekuatan yang dasyat untuk menjadi kemanfaatan yang besar bagi masyarakatnya, negaranya, dan terutama bagi diennya. Dan PR ini bukan main-main, agenda ini harus senantiasa di evaluasi bersama. Karena kita semua adalah du’at, nahnu du’at qobla kuli syai (kita adalah da’i sebelum yang lainnya ).

Maka ukhti fillah, akhwat, dan umahat bantulah para akhwat aktivis untuk tidak fobi terhadap pernikahan. Dengan segala keterbatasan, teruslah kepakan sayap jihadmu. Minimal lewat perhatian dan doamu. Karena Nusaibah, Khadijah, Khansa, tidak lahir begitu saja. Generasi shahabiyah bukan impian semu yang tak mungkin hadir di akhir zaman ini. Kita adalah wanita akhir zaman, kita tidak bisa berhenti melangkah dan bergerak karena cita-cita besar kita belumlah futuh hingga dakwah mencapai kemenangannya. Kehidupan kita bukanlah sebatas suami, anak dan segala kesulitan rumah tangga kita. Tapi lebih besar lagi… Ini adalah tantangan bagi saya, meski saya tak pernah mampu meraba masa depan.

Tapi semoga Allah mengistiqomahkan kita, akhwat, dimanapun nanti ukhti berada, mendampingi mujahid manapun…. Jannah itu adalah milik kita juga, maka bertempurlah tuk jadi yang terbaik dari setiap peran yang harus kita jalani. Ini pertempuran kita…. Tuk buktikan pada dunia kita mampu setegar para mujahidah Afgan yang saling menyemangati antar para umahat untuk mendorong para suaminya berjihad dan menutup pintu rumah kala suaminya bermalas-malasan dari dakwah.

Ini pertempuran kita, tuk buktikan pada Allah bahwa Dia tak pernah salah memilih kita menjadi mujahidah dakwahnya… Yang menjadikan suami dan anak bukan fitnah baginya. Namun menjadi kekuatan luar biasa, sekuat para mujahidah dan para umahat Palestina yang tak pernah berhenti melahirkan dan mendampingi mujahid dakwah meski mereka harus kehilangan semua orang yang dicintanya…. Demi izzah Islam.

Ini pertempuran kita… Tuk kalahkah stigma bahwa akhwat bagai burung patah sayap saat ia menikah. Bertempurlah ya ukhti, terutama dengan diri kita sendiri. Karena seringkali ialah musuh terbesar kita.

Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, maka merekalah orang-orang yang rugi…” (Q.S Al Munafiqun : 9).

Karena kau ukhti mujahidah…. Karena kau pendamping mujahid dakwah… Maka sambutlah seruan ini… Semoga kelak kau kan menjadi bidadari surga mulia di jannah-Nya. Wallahualam bishawab.