Bidadariku, Aku Rindu…

BIDADARIKU, AKU RINDU…

Tidak mudah menjadi kader luar biasa yang punya kesabaran luar biasa, dan kelak menjadi bidadari luar biasa

Hmh…. Aku kembali menghela nafas panjang. Setampuk amanah yang ada di hadapanku menanti komitmen yang luar biasa besar. Rangkaian upaya kaderisasi yang ideal masih menjadi penelitian besar dalam laboratorium dakwah sekolah ini. Ditengah kesibukanku dan rutinitas dakwahku yang begitu menyita sebagian besar waktuku, sebuah kerinduan menyelinap hadir dalam hatiku. Tiba-tiba saja butiran kristal air mata membasahi pipiku… Gelombang kerinduan yang begitu besar hadir mengganggu konsentrasiku. Malam itu disela waktu jagaku, tepat pukul dua belas malam saat aku menyiapkan materi Ash Shaff untuk pertemuan besok dengan bidadari-bidadari kecilku sepulang waktu jagaku.

Kuambil handphoneku, kutulis seuntai bait kerinduan. Bidadariku, kaifa halukh wa imanuki? Aku sangat rindu padamu. Kala kesendirian ini mengiringi hari-hariku, aku ingat padamu. Perjalanan ini terasa sepi tanpa dirimu disisiku. Dulu kita punya banyak mimpi dan cita bersama. Ingatkah, dulu aku bintang di hatimu dan begitu juga dirimu. Kita sepasang mujahidah yang berjuang bersama. Waktu seorang akhwat memang terbatas, apakah saat ia menikah ia harus menjadi burung sayap patah?? Aku kangen banget de… Rindu semangat juangmu, rindu melihat hamasah dari cahaya di matamu, rindu orasi-orasimu, rindu mendengar tilawah Qur’anmu, rindu tausiyahmu, rindu berjuang bersamamu……

Semalam tadi aku menangis, mengingatmu, mengenangmu….. Kau tak membalas SMSku. Mungkin karena terlalu larut. Mungkin juga karena kesibukanmu kini. Ada amanah lain, amanah yang juga indah. Mujahid –mujahid yang mengantikan posisiku (aku masih saja selalu cemburu pada mereka, seolah mereka merebutmu dariku). Namun bagaimanapun aku turut bahagia, saat melihatmu dan dunia baru milikmu. Aku tahu semua itu begitu indah, kau begitu sering menceritakannya padaku. Tentang mujahid-mujahidmu, aku bahagia untukmu. Aku tak kuasa kala melihat binar matamu saat kau ceritakan tentang mereka. Semburat kerinduan juga mungkin hadir dalam diriku. Tentang mendampingi mujahid dakwah, tentang menjadi seorang ibu, tentang memiliki jundi-jundi dalam kehidupan yang miskin ini. Aku mungkin kini hanya mengisi sebagian kecil kapling di hatimu, menoreh catatan sejarah… Semoga tentang indahnya persahabatan kita…. Tapi, hari ini aku sangat rindu bermimpi kembali bersamamu, membangun sebuah tandzhim dakwah sekolah (DS) yang kokoh.

Kau pernah berkata padaku, aku harus lebih realistis… Tentang usiaku, tentang waktu terbaik reproduksiku, tentang hak-hakku… Aku tahu semua itu. Tapi saat setampuk amanah, sekelumit sistem kaderisasi hadir di hadapanku, semua tentang itu lenyap dari hatiku. Yang ada hanyalah bagaimana mencetak banyak kader untuk bisa mengatasi masa transisi ini. Sejumlah agenda pertemuan, strategi dakwah dan jihad, serta manajemen waktu yang harus terus diperbaiki. Kau pasti mengenalku, seorang yang memang sangat keras kepala dan tak mau mengalah…

Aku ingat saat mengiringimu menjelang pernikahanmu. Kau begitu bahagia, begitu juga diriku. Aku selalu berada di baris terdepan kepanitiaan pernikahan bidadari-bidadari terbaikku, melihatmu bahagia adalah kecukupan bagiku. Dulu kau sempat takut, pernikahan membawamu pada dunia baru yang berbeda (mungkin juga karena kau harus berpisah denganku… Hehe…). Dan aku berusaha untuk selalu disampingmu, menyemangatimu, dan berkata “Jangan takut dan bersedih, gerbang pernikahan bukan akhir segalanya tapi justru awal dari sebuah kekuatan baru untuk berjihad dijalanNya.” Kata-kata itu terus menerus kuulang pada setiap pernikahan sahabatku.

Kini tahukah dirimu, aku tak sanggup lagi mengatakannya…. Aku tak kuasa lagi harus berada di baris terdepan kepanitiaan bidadari-bidadariku yang kini tersisa. Aku harus berjuang menyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukan akhir segala cita DS kita.

Bidadariku, sahabat terbaik yang pernah Allah berikan padaku…. Aku begitu rindu padamu… Jika ruang dan waktu kini memisahkan diriku dan dirimu, izinkan aku tetap mencintaimu, tetap berjuang tuk kobarkan semangat juangmu kembali…. Aku tahu sayapmu tak pernah patah, justru mungkin kian mengembang… Dengan segala amanah baru yang luar biasa… Andai kau ikhlas tentu itu kan jadi wasilahmu menuju jannah-Nya. Aku tahu cita itu masih hadir di hatimu, saat-saat bersama DS adalah saat-saat terbaikmu… Aku sangat ingin berjuang kembali bersamamu, mungkin suatu hari nanti mimpi ini jadi kenyataan… Saat bersamamu kembali dalam ruang-ruang syuro, mabit, dan amal bersama kita di DS. Dan aku masih memilih untuk keras kepala, maafkan aku (aku tahu kau masih begitu menyayangi dan memperhatikan aku). Tapi…, aku memilih untuk tetap berjuang di DS ini hingga saat yang tepat untukku menuju cita yang lebih besar.

Aku tak mungkin meninggalkan bangunan dengan landasan yang belum kokoh, aku tidak ingin meninggalkannya kembali pada titik nol perjuangan…. Kini, ini menjadi pertempuranku… Meski tanpamu di sisiku. Bangunan dakwah ini belum usai tuk berdiri tegak, dan entah kapan ia kan menemukan futuhnya. Usia dakwah bukanlah usia manusia, kita hanya bisa berjuang dan berjihad. Aku hanya ingin tetap berjuang bersama mereka… Doakan saja aku ya. Sungguh, malam ini…. Jauh dilubuk hatiku…. Aku begitu rindu kepadamu…. Jauh dilubuk hatiku…. Aku ingin kembali berjuang bersamamu……

*****

Untuk bidadari-bidadari terbaik yang pernah hadir dalam hatiku, menemani setiap langkah perjuangan ini. Kita pernah punya masa-masa paling indah, saat tawa, canda, tangisan adalah warna kita bersama…. Terima kasih untuk memberiku kenangan terbaik tentang kita. Terima kasih untuk segala perhatian dan kasih sayang yang diberikan. Semoga Allah memudahkan amanah yang kini ada dipundakmu… Menjadi perhiasan terbaik bagi suamimu, menjadi madrasah terbaik bagi anak-anakmu…. Menjadi jundi terbaik bagi dien ini… Jika kau rindu, rumah ini selalu terbuka menanti semangat dan karya juangmu….